ROOM PENGETAHUAN
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Cerita Pangeran Biawak - Cerita Kalimantan

Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia

Cerita-Kalimantan-Cerita-Pangeran-biawak

Dahulu di pedalaman Kalimantan ada sebuah kerajaan. Rakyat kerajaan itu hidup dengan kemakmuran yang melimpah, tentram dan damai karena kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.
Raja mempunyai 7 orang putri, Semuanya belum bersuami. Lalu raja mengadakan sayembara. Barang siapa dapat membangun istana megah di seberang sungai maka merekalah yang akan beroleh kesempatan menjadi menantunya.
Pengumuman pun disebar ke pelosok negeri. Hasilnya luar biasa. Ada enam orang pemuda yang menyanggupi permintaan raja. Keenam pemuda itu bekerja keras siang dan malam, hasilnya luar biasa. Dalam tempo yang tidak terlalu lama berdirilah sebuah istana yang megah di seberang sungai, lengkap dengan isinya dan tanah lapang yang mengelilinginya.
Karena istana tersebut letaknya berada di seberang sungai. Raja mengadakan sayembara kembali untuk dibuatkan jembatan agar orang yang hendak ke sana tidak usah naik perahu cukup berjalan kaki saja. Namun sungguh aneh hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak ada seorangpun yang menyanggupi sayembara itu.
Tiba-tiba entah darimana datangnya ada seorang nenek tua dan seekor biawak hadir di ruang persidangan.
"Hamba meminang putri Paduka untuk anak hamba.""Apa?" teriak sang Raja kaget."Benar Paduku, biarpun kami berasal dari keluarga miskin kami sanggup mengikuti sayembara itu?" kata perempuan tua itu dengan mantap."Oh, ya tidak masalah." kata Raja." sayembara ini terbuka untuk siapa saja. Kaya miskin, tampan jelek tidak masalah, kamu tidak memandang rupa.""Benarkah Paduka tidak mamandang rua?"
"Benar ucapanku adalah jaminan. Pantang bagi raja menjilat ludah sendiri." sang raj menegaskan." Tetapi perlu kau ingat bila anakmu gagal maka akan diberi hukuman pancung!""Nah, anakku Kau sudah mendengar sendiri perkataan sang raj tadi."Tak disangka biawak yang diajak bicara adalah tidak lain anaknya sendiri.
Semua orang yang berada di ruang persidangan menjadi kaget. Tidak disangka jika anak yang dimaksud perempuan tua itu adalah biawak itu. Mereka semua mengira bahwa anaknya berada di rumah.
Sepeninggal nenek tua lalu raja memanggil tujuh orang putrinya untuk diajak bermusyawarah. Masing-masing ditanya satu-satu siapa yang mau dipinang oleh seekor biawak. Enam putri menolak mentah-mentah tinggal satu orang putri yang belum menjawab yaitu si putri bungsu. Kini sang ibu permaisuri menegaskan untuk bertanya kembali. Si putri bingsu itu langsung menjawab "Ucapan raja pantang ditarik kembali. Demi kehoramatan ayahanda selaku raja negeri ini, saya sanggup menerima pinangan Biawak itu."Permaisuri langsung jatuh pingsan karena jawaban dari putri bungsu tersebut. Keenam putri yang lain malah terheran-heran. Keesokan harinya semua orang kaget ternyata biawak itu sudah menyelesaikan pekerjaannya bahkan dia mampu menyelesaikannya hanya dalam tempo kuarng dari satu malam.
Rajapun kemudian menepati janjinya untuk disandingkan dengan calon menantunya. Keenam pasangan tersebut terlihat serasi kecuali hanya satu pasang saja yaitu putri bungsu yang cantik bersanding dengan seekor biawak.
Pada saat malam hari tiba,Keenam pasangan tersebut terdengar canda dan tawa. Namun hanya kamar putri bungsu saja yang tidak terdengar canda ria seperti hal yang lain. Ketika malam semakin larut Putri bungsu semakin mengantuk, Biawak yang yang menjadi suaminya ditinggal begitu saja di sudut kamar. Ia segera tertidur pulas. Namun di tengah malam ketika ia terjaga, ia kaget bukan kepalang. di sampingnya telah berbaring sorang seorang pemuda tampan.
Ia memekik sekuat-kuatnya. Para pengawal istana segera memriksa ke dalam putri bungsu namun setelah di jumpai tidak ada satupun yang dilihat kecuali seekor Biawak tersebut.Lalu semua pengawalpun pergi karena menganggap sudah aman. Namun Putri Bungsu masih terheran-heran. Ia yakin sedang tidak bermimpi. Tapi kemana ya perginya pemuda tampan itu.
Pada malam ketiga sebelunya putri untuk tdak tidur pada siang harinya dengan pulas agar nanti malam ia bisa bangun dengan pura-pura tidur nyenyak. Ternyata benar tidak lama kemudian terasa ada benda berat merebahkan diri disampingnya. Putri bungsu segera membalik. Benar saja pemuda yang dua malam berturut-turut hadir di kamarnya kini malah makin berani mendekatinya.
Dengan mata beringas putri Bungsu berkata," Hai lelaki asing ! sungguh kau tak tahu malu, berani masuk ke kamar orang. walau suamiku seekor binatang ia jauh lebih baik dibanding kau yang tidak tahu tatakrama !"
Habis memaki-maki putri bungsu langsung menghunuskan pisau ke arahnya tiba-tiba dengan mudahnya lelaki itu menagkisnya sehingga pisau itu terlempar ke lantai. Kini sang putri malah berada didalam rangkulan ketat si pemuda tampan.
"Sabar istriku sebenarnya aku adalah suamimu sendiri karena waktu itu ada beberapa hal akhirnya aku dikutuk oleh dewa senhingga menjadi seekor biawak."
Putri bungsu langsung menganguk-angguk mendengar penuturan lelaki itu. ketika rangkulan pemuda di lepaskan. Putri Bungsu segera melompat ke sudut kamar, di sana ia menemukan kulit biawak. Sarungan yang biasa dimasuki suaminya itu segera dibawa ke luar istana. Lalu dibakar sampai hangus musnah. Lalu ia kembali ke kamarnya lagi. Di sana ia mendapati seorang perjaka tampan yang lagi gerah, karena sarungan yang biasa dia pakai kini hangus terbakar, selanjutnya ia pulih sedia kala.
Keajaiban itu membuat iri keenam saudaranya. Hampir bersamaan mereka menyuruh suaminya untuk berdagang yang jauh. Lalu mereka memelihara seekor biawak liar di dalam kamarnya. Mereka berharap kejadian serupa yang dialami adiknya.
Tapi apa yang terjadi? di malam pertama mereka sudah menjerit-jerit kesakitan karena di gigit oleh biawak liar tersebut. Akhirnya biawak itu dibuang ke sungai.
Esok harinya mereka bersama-sama menemui adik mereka tercinta yaitu si Putri Bungsu. Mereka merangkul adiknya dengan penuh rasa haru. Mereka sadar bahwa adiknya itu bersuamikan Biawak bukan karena keinginan sendiri melainkan demi berbakti dan menjaga kehormatan ayahandanya. Niat tulus itu akhirnya membuahkan nasib yang baik dan membahagiakan Putri Bungsu.

Cerita Kalimantan - Cerita Minyak Kuyang

Room Cerita Rakyat,


Berbagi info dari blog : JuriRakyat

Cerita-Kalimantan-Cerita-minyak-kuyang

minyak Kuyang atau kawiyang sangat terkenal, sampai-sampai banyak orang yang mencari benda langka ini. Selain sebagai pesugihan, minyak kuyang ini juga ditengarai dapat membuat pemiliknya awet muda dan beberapa khasiat keguanaan lainnya. Minyak Kawiyang memiliki nama berbeda disetiap wilayah Kalimantan, ada yang menyebutnya minyak kuyang, ada juga yang menamainya sebagai minyak Sumbulik

Ada cerita yang melatarbelakangi asal muasal minyak kuyang ini, ketika jaman dahulu pernah hidup seorang janda cantik dengan empat orang saudaranya, dengan nama Camariah, Dandaniah, Tambuniah dan Uraniah. Kecantikan paras wanita ini semakin lama semakin bertambah cantik, namun tidak ada satupun para lelaki yang langgeng membina rumahtangga dengan mereka. Karena setiap kali dinikahi, tak berapa lama pasti akan bercerai.

Ketika hendak meninggal dunia, datanglah 99 lelaki yang pernah menjadi suami mereka. Para suami tersebut menangis dan merasa bersalah karena telah bercerai dan meninggalkannya.

Ketika suasana sedih tersebut, ada suara gaib yang membisikkan bahwa wanita yang akan meninggal tersebut memiliki “cupu” alias guci kecil yang berisi minyak untuk dibagi-bagikan kepada 99 orang lelaki tersebut untuk “dipelihara” dan sebagai kenang-kenangan Suara gaib tersebut membisikkan juga bahwa minyak dalam guci tersebut memiliki khasiat.

Setelah itu, 99 lelaki tersebut membawa minyak dalam guci kecil tersebut ke kampung mereka masing-masing dan akhirnya tersebar kemana-mana hingga kini. Minyak dalam cupu tersebut kemudian oleh penduduk dinamakan Minyak Kawiyang, Minyak Sumbulik atau Minyak Kunyang. Minyak Kuyang tersebut memiliki lima macam warna dan berbeda juga khasiatnya.
Minyak Kuyang pertama berwarna Hitam, khasiatnya untuk ilmu kebal, tahan terhadap tebasan benda tajam atau tertembak peluru musuh. Khasiat atau apuah lainnya, adalah pemiliknya dapat menghilang dengan cepat dan tanpa jejak.

Minyak Kuyang kedua berwarna merah, khasiat yang dimilikinya adalah untuk ilmu meringankan tubuh, dapat berlari cepat secepat kilat, dan dapat memanggil dan memerintahkan para jin untuk mengikuti perintah yang diberikan si empunya minyak kuyang merah ini. Minyak Kuyang ketiga berwarna Hijau, dengan khasiat dapat membuat dan mengirimkan ilmu santet, teluh, atau parangmaya kepada orang lain yang dikehendaki.

Minyak berwarna hijau ini juga dapat dipakai sebagai minyak untuk awet muda. Caranya, minyak tersebut dipoleskan di leher, kemudian leher yang telah dioles minyak kuyang ini akan terlepas dari raga pemiliknya dan terbang mencari korban untuk dihisap darahnya.Biasanya korban yang dicari adalah wanita yang akan melahirkan. Karena darah yang keluar dari proses persalinan akan mengeluarkan darah yang banyak. Kebanyakan yang belajar ilmu sesat ini adalah para wanita, yang pada siang hari, selalu melilitkan selendang atau penutup kepala pada leher mereka agar bekas olehan minyak kuyang ini tidak terlihat oleh orang lain.

Dan tanda-tanda wanita dengan melilitkan selendang atau penutup kepala pada leher mereka ini masih banyak ditemukan di desa-desa di Kaltim. Orang yang memiliki ilmu Kuyang ini sangat takut dengan bau bawang merah atau bawang putih. Jika ada orang yang dicurigai memiliki ilmu kuyang ini, kupas saja bawang sebanyak-banyaknya, kemudian kulitnya dibakar. Dijamin sang pemilik ilmu hitam ini akan memohon untuk tidak mengupas dan membakar kulit bawang lagi karena air mata mereka akan bertetesan.

Jika ingin mengirimkan santet atau teluh dari jarak jauh, minyak kuyang hijau ini cukup dioleskan pada jarum, paku atau pecahan kaca, lalu diperintahkan untuk menyerang orang yang diinginkan. Jarum, paku atau pecahan kaca tersebut akan secara gaib masuk ke dalam urat nadi dan pembuluh darah orang yang akan diserang. Minyak Kuyang selanjutnya berwarna Kuning, khsiatnya untuk menundukkan hati para perempuan supaya dapat jatuh cinta dan mengikuti keinginan si pemilik minyak kuyang ini.

Caranya cukup dengan mengoleskan ke ujung jari, kemudian digosok-gosokkan ke telapak tangan, untuk selanjutnya dikenakan kepada wanita yang dimaksud. Minyak Kuyang kelima berwarna Putih, khasiatnya sebagai pelarisan alias sebagai saranan untuk mendatangkan uang secara gaib.

Caranya, uang yang hendak dibelanjakan terlebih dahulu dioleskan minyak tersebut. Ketika sudah dibelanjakan, secara gaib uang tersebut akan kembali lagi kepada pemiliknya. Agar mendapatkan uang yang banyak, biasanya uang yang telah dioleskan uang tersebut dibelanjakan untuk membeli emas. Uangnya kembali dan emasnya dapat dijual kembali.

Semua jenis minyak Kuyang tersebut dijaga oleh jin masing-masing. Konon, minyak kuyang berwarna hitam dijaga oleh jelmaan jin wanita janda. Sementara, minyak-minyak lainnya dijaga oleh jin jelmaan saudara wanita janda yang masing-masing bernama Camariah, Dandaniah, Tambuniah, dan Uraniah tersebut.Selain itu, setiap waktu tertentu, biasanya setiap tahun, minyak kuyang tersebut harus diberi “makan” berupa sesaji sesuai fungsinya masing-masing.

Minyak kuyang berwarna hitam tiap tahun harus makan darah ayam hitam atau cemeni dan nasi ketan.

Minyak Kuyang berwarna merah dan hijau selalu menginginkan darah yang berasal dari jari manis manusia dan air tebu merah.

Kalau minyak kuyang berwarna putih dan yang berwarna kuning setiap waktunya akan meminta serbuk emas.

Meletakkan minyak kuyang ini pun tidak sembarangan, karena harus diletakkan dalam ruangan yang tidak terdapat cermin atau kaca dan harus ada lubang besar terbuka.

Minyak kuyang biasanya diempatkan dalam sebuah guci kecil yang dikenal dengan nama cupu. Cupu inipun bukan sembarang cupu, karena harus cupu yang “retak seribu” alias cupu yang telah berusia puluhan.


Baca Juga : Manusia Ular

Cerita Semangka Emas

Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Kumpulan Cerita Rakyat



cerita-semangka-emas


Pada zaman dahulu kala di daerah Sambas hidup seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai dua orang anak laki-laki yang diberi nama Muzakir dan adiknya bernama Dermawan. Sesuai dengan namanya Muzakir sangatlah tamak dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya menumpuk kekayaan dan tidak peduli pada orang-orang miskin yang hidup disekitarnya. Sebaliknya, Dermawan tidak rakus akan uang dan kemewahan serta selalu bersedekah pada para fakir miskin.
Suatu hari, sang saudagar membagi rata hartanya pada kedua anaknya, Muzakir dan Dermawan. Maksudnya, adalah agar kalau dia meninggal nanti kedua anaknya tidak akan saling iri dan memperebutkan harta kekayaannya. Ketika harta telah dibagikan, karena kikir, Muzakir langsung membeli sebuah peti besi dan menaruh uang bagiannya ke dalam peti tersebut lalu dikunci rapat-rapat. Jika ada orang yang meminta bantuan keuangan, bukannya memberi malah menyuruh penjaganya untuk mengusir orang tersebut.

Lain halnya dengan Dermawan yang selalu menyambut dengan senang hati orang-orang miskin yang ingin meminta bantuannya. Mereka selalu dijamu dengan makanan dan sebelum pulang diberi sedikit uang untuk bekal hidup. Hal ini membuat harta Demawan cepat habis alias bangkrut sehingga tidak mampu lagi membiayai operasionalisasi rumahnya yang besar. Dermawan akhirnya pindah ke rumah yang lebih kecil dengan fasilitas cukup sederhana. Namun, dia tetap senang dengan hidup yang demikian.

Suatu ketika, saat Dermawan duduk di teras rumahnya untuk melepas lelah, tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit. Karena penasaran, Dermawan lalu mengambil burung pipit tersebut untuk memeriksa keadaannya. Setelah diperiksa, ternyata sayapnya patah sehingga sulit untuk terbang lagi. Dermawan lalu membawanya ke dalam rumah untuk diobati dengan cara membalut salah satu sayapnya agar dapat tersambung lagi.

Beberapa hari kemudian, sang pipit mulai dapat mengibas-ngibaskankan sayapnya. Dan setelah merasa sembuh, ia pun terbang kembali seperti biasanya. Keesokan harinya sang pipit datang lagi pada Dermawan sambil membawa sebutir biji tanaman di paruhnya. Mungkin biji itu adalah sebagai ungkapan terimakasih pada Dermawan yang telah sudi menolong dan merawatnya hingga sembuh. Oleh Dermawan, biji itu lalu dibawa ke pekarangan belakang rumahnya untuk ditanam.

Tidak sampai seminggu kemudian, biji pemberian burung pipit tumbuh menjadi sebuah pohon semangka. Karena dirawat setiap hari, pohon semangka tumbuh besar dan banyak bunganya. Berdasarkan banyaknya bunga yang tumbuh, Dermawan mengira kalau pohon itu akan berbuah banyak sehingga ia dapat menyedekahkan sebagian buahnya bagi kaum miskin yang tinggal di sekitarnya.

Tetapi anehnya, dari sekian banyak bunga tersebut hanya satu bunga saja yang akhirnya menjadi buah dengan ukuran luar biasa besar, jauh lebih besar dari semangka pada umumnya. Setelah dirasa cukup masak, Dermawan berusaha memetiknya. Namun, karena ukurannya yang luar biasa, dia harus bersusah payah dahulu untuk dapat memetik dan membawanya ke dalam rumah.

Ketika telah berada di rumah, Dermawan segera membelahnya menggunakan pisau. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika semangka terbelah yang tampak bukanlah daging buah berwarna merah, melainkan emas murni dalam bentuk butiran pasir berwarna kuning. Dermawan langsung berlari kegirangan keluar untuk menemui burung pipit yang setiap hari bertengger di depan rumahnya.

“Terima kasih burung pipit! Terima kasih,” teriak Dermawan kegirangan.

Sang burung hanya mencicit sebagai tanda balasan lalu terbang tanpa pernah kembali lagi.

Selanjutnya, butiran emas murni itu ditampung Dermawan dalam sebuah karung untuk dijual di pasar. Hasil penjualannya dibelikan sebuah rumah besar dengan pekarangan luas sekali dan juga sebuah kebun untuk bercocok tanam mencari nafkah. Lama-kelamaan usaha Dermawan maju sehingga dapat bersedekah lagi pada orang-orang miskin yang tinggal di sekitarnya.

Kebangkitan usaha Dermawan rupanya membuat sang kakak iri hati. Muzakir lalu pergi ke rumah adiknya untuk mengetahui bagaimana Dermawan dapat kembali makmur seperti ketika baru mendapat harta warisan dari orang tua. Oleh karena Dermawan orang yang jujur, tanpa harus didesak dia pun lantas menceritakan seluruh peristiwa yang membuatnya dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Setelah mendapatkan informasi lengkap dari Dermawan, Muzakir langsung pulang dan memerintahkan para bawahannya mencari burung yang sayap atau kakinya patah. Namun hingga satu minggu pencarian, tak seekor burung malang pun yang berhasil ditemukan. Muzakir yang cepat putus asa segera membuat jalan pintas dengan memerintahkan seorang bawahannya untuk menangkap burung menggunakan apitan. Walhasil, seekor burung pipit pun dapat tertangkap dengan sayap patah terkena apitan.

Muzakir segera membawa burung itu untuk dirawat dan diobati seperti Dermawan merawat dan mengobati burung pipit yang memberinya emas. Tetapi perawatan yang diberikan Muzakir bukanlah atas dasar belas kasihan yang tulus, melainkan karena ingin memperoleh pasir emas seperti yang didapatkan Dermawan.

Beberapa hari kemudian sayap burung telah pulih dan segera dilepaskan kembali dengan harapan si burung berterima kasih dan memberinya sebutir biji semangka. Perkiraan Muzakir ternyata benar adanya karena keesokan harinya sang burung datang dengan membawa sebutir biji semangka. Muzakir menerima biji itu dengan sangat gembira dan langsung menanamnya di kebun. Singkat cerita, biji pun tumbuh menjadi pohon semangka yang berdaun rimbun, berbunga banyak walau akhirnya hanya satu saja yang tumbuh besar melebihi buah yang dihasilkan dari pohon semangka milik Dermawan.

Ketika dipanen, karena ukurannya sangat besar dibutuhkan dua orang bawahan Muzakir untuk memetik dan membawanya ke dalam rumah. Muzakir yang sudah tidak sabar lagi segera mengambil parang untuk membelah semangka yang telah ditelakkan oleh bawahannya di atas meja. Namun, baru saja semangka itu terbelah, bukanlah pasir emas yang keluar, melainkan lumpur hitam bercampur kotoran yang menyembur ke muka hingga pakaian Muzakir serta permadani mahal yang ada di ruangan itu. Muzakir pun kaget dan langsung berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit sehingga orang-orang yang melihatnya menjadi tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

Jangan Lupa Baca Juga kisah : Roro Jonggrang

Cerita Roro Jonggrang


Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Kaskus

Cerita-Roro-Jonggrang


pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.

Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”,Tanya Bandung Bandawasa.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.

Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

Cerita Si pahit lidah serta si empat mata

Room Cerita Rakyat,

Berbagi Info dari blog : Kaskus


Cerita-rakyat-si-pahit-lidah-serta-si-empat-mata

Cerita Rakyat Si pahit lidah serta si empat mata  adalah cerita rakyat yang berasal dari Lampung dan merupakan salah satu cerita rakyat Indonesia yang popular di kalangan masyarakat Lampung. Cerita ini mengisahkan tentang dua orang yang sombong karena memiliki kelebihan dari orang lain. Pengajaran yang bisa di petik dari cerita ini adalah jangan menjadi orang yang sombong walaupun memiliki kelebihan dari orang lain. Berikut marilah kita simak bersama cerita rakyat dari Lampung yang berjudul Si Pahit Lidah dan Si Empat Mata

Serunting adalah orang yang sakti mandraguna. Dia berasal dari Majapahit yang kemudian diusir dari istana lalu berkelana ke Sumatera. Adik ipar Serunting yang bernama Arya Tebing merasa iri dengan kesaktian Serunting. Dia lalu memujuk kakaknya untuk memberitahu di mana letak kelemahan Serunting. Karena rasa sayang kepada adiknya akhirnya istri Serunting memberi tahun letak kelemahan Serunting.
Setelah mengetahuinya Arya Tebing mengajak Serunting untuk adu kekuatan. Mereka pun berkelahi, ketika itu Arya Tebing menusuk Serunting di tempat kelemahannya. Serunting terluka parah dan kemudian mengasingkan diri di Gunung Siguntang. Dalam pengasingannya Serunting mengobati lukanya dan tidak jemu berdoa pada Tuhan agar mengembalikan kesaktiannya. Karena ketekunan Serunting akhirnya dia diberi kelebihan bahwa apapun yang diucapkannya menjadi kenyataan.
Pada suatu hari Serunting sedang berjalan-jalan di sebuah kampung. Masyarakat kampung tersebut sedang menanam padi. Hamparan sawah yang menguning sangat indah di pandang mata. Namun Serunting malah mengatakan bahwa itu bukan sawah melainkan hamparan batu. Ketika itu tiba-tiba saja ucapan Serunting menjadi kenyataan. Melihat hal itu warga menjuluki Serunting dengan julukan Si Pahit Lidah. Masyarakat tidak ada yang berani melawan Si Pahit Lidah karena mereka takut terkena kutukannya. Si Pahit Lidah menjadi sombong dan kasar sehingga warga tidak menyukai dirinya.
Kesaktian Si Pahit Lidah terdengar oleh Si Empat Mata seorang yang juga memiliki kesaktian dari negeri India. Si Empat Mata merasa tersaingi kesaktiannya dan bermaksud untuk menantang Si Pahit Lidah. Kemudian dia berlayar menuju Sumatera untuk menemui Si Pahit Lidah. Ketika bertemu Si Empat Mata menantang Si Pahit Lidah untuk berkelahi. Berhari-hari mereka berkelahi dan mengeluarkan seluruh kesaktiannya namun tidak ada yang menang atau kalah.

Ketika itulah seorang tetua kampung mengajukan pertandingan untuk kedua orang tersebut. Meraka harus memakan buah aren yang tersedia. Si Pahit Lidah mendapat giliran pertama untuk memakan buah tersebut. Dengan sombong Si Pahit Lidah memakan buah aren itu sambil berfikir karena tidak mungkin dia akan mati dengan buah sekecil itu. Namun apa yang terjadi Si Pahit Lidah menggelepar lalu mati. Melihat Si Pahit Lidah mati Si Empat Mata merasa senang karena sekarang dialah orang yang paling sakti di negeri itu. Namun, Si Empat Mata merasa aneh karena Si Pahit Lidah bisa mati hanya dengan sebiji buah aren. Si Empat Mata lalu menimang-nimang buah aren sisa Si Pahit Lidah, dia memakan buah aren tersebut dan tidak lama kemudian Si Empat Mata menggelepar lalu mati. Akhirnya mereka berdua mati dengan kesombongan sendiri lalu keduanya di makamkan di Danau Ranau.
Cerita Rakyat Si Pahit Lidah dan Si Empat Mata menceritakan tentang kesombongan akan mengakibatkan celaka pada diri sendiri.

Baca Juga : Batu Menangis


Cerita Batu Menangis

Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Lokerseni


cerita-batu-menangis

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.
Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.
Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.
Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.
"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".
Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Baca Juga Cerita di Room Lainnya : Danau Toba

Cerita Danau Toba

Room Cerita Rakyat,

Berbagi Info dari Blog : Lokerseni

Cerita-Danau-Toba


Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Cerita-Danau-Toba
Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.
“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya  kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.
Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.
Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.
Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

Cerita-danau-Toba
 Baca Juga : Manusia Ular

Cerita Padi Sebesar Kelapa

Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Cerita Nusantara

Cerita-padi-sebesar-kelapa

Dahulu kala di daerah Teluk Pandak terdapatlah sebuah padi sebesar buah kelapa. Masyarakat setempat tidak pernah tahu dari mana asalnya. Padi itu ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar rumahnya. Padi yang ditemukan itu bukanlah padi lengkap dengan batangnya, namun hanya sebuah biji padi sebesar kelapa lengkap dengan cangkangnya. Penduduk Teluk Pandak percaya bahwa padi itu merupakan titisan dari Dewi Sri. Mereka seperti mendapatkan berkah dengan turunnya padi itu ke tempat mereka.
Saat musim tanam tiba, masyarakat membawa padi sebesar kelapa tersebut ke sawah yang akan ditanami. Setelah padi di tanam, masyarakat berkumpul untuk melakukan doa bersama agar padi yang ditanam mendapat berkah dari Tuhan. Sekelompok muda-mudi membawakan tari Dewi Sri. Tarian itu diiringi oleh lagu yang bersyair doa dan pujian kepada Tuhan. Lagu itu mereka namakan dengan Nandung. Kulit padi mereka pukul-pukul sebagai gendang pengiring tarian Dewi Sri.
Waktu terus berjalan. Musim panen pun tiba. Masyarakat kembali berkumpul dan bersama-sama melakukan panen. Panen pertama ini mereka lakukan hanya untuk sebagian kecil padi yang akan digunakan untuk acara makan bersama. Saat akan menuai padi, mereka menimang-nimang padi titisan Dewi Sri itu sambil melantunkan puji-pujian kepada Tuhan atas keberhasilan tanaman mereka. Padi yang sudah dituai kemudian diirik dengan kaki. Setelah itu padi dijemur. Setelah menjadi beras, padi itu dimasak dan dipersiapkanlah sebuah acara makan bersama. Dalam acara itu padi sebesar kelapa itu kembali dibawa. Sebelum makan mereka melagukan syair-syair yang intinya adalah syukuran, doa mohon keberkahan, dan keselamatan kepada Tuhan. Acara makan pun selesai. Keesokan harinya masyarakat secara bersama-sama memanen seluruh padi.
Setelah seluruh padi selesai dipanen, tumbuhlah anak padi dari bekas batang padi yang tinggal. ini lebih kecil. Mereka menamakan padi yang lebih kecil itu dengan Salibu. Padi itu ukurannya lebih kecil dari ukuran padi biasa. Salibu itu kemudian di panen. Setelah dipisahkan dari cangkangnya, Salibu kemudian digonseng dan ditumbuk hingga berbentuk emping. Proses menggonseng hingga menumbuk Salibu dilakukan oleh muda-mudi dari sore hingga malam hari. Selama proses itu tidak jarang ada muda-mudi yang akhirnya berjodoh. Emping dari Salibu kemudian dimakan bersama-sama dalam acara pernikahan muda-mudi yang berjodoh itu.

Baca Juga :  Putri mayang

Cerita Legenda manusia Ular Daerah Kalimantan

Room Cerita Rakyat,


Berbagi Info dari Blog : Mistik


Cerita-Legenda-Manusia-Ular-daerah-kalimantan
Dahulu ada seseorang yang bernama Sangi.Dia adalah seorang pemburu yang tangguh.Sangi pandai menyumpit buruan,Sumpitnya selalu mengenai sasaran.Setiap kali berburu ia selalu berhasil membawa pulang daging babi hutan dan daging rusa.
Sangi bertempat tinggaldi daerah aliran sungai Mahoroi,anak sungai Kahayan.Pada suatu hari sangi berburu dari pagi hingga petang namun tak mendapatkan seekor pun binatang.Keadaan ini membuat ia kesal.Karena hari mulai sore,ia pun pulanglah dengan tangan kosong.Didalam perjalanan pulang ia melihat bahwa air tepi sungai sangatlah keruh.Ini bertanda bahwa babi hutan baru saja minum air di sana.Dugaannya di perkuat oleh jejak kaki babi hutan.
Dengan penuh harapan Sangi terus mengikuti jejak bimatang itu.Benar saja,tak jauh di sana ia menemukan babi hutan tersebut,tetapi dalam keadaan yang sangat mengerikan.sebagian dari tubuh babi hutan itu berada di dalam seekor mulut ular raksasa.Pemandangan mengerikan ini sangat membuat takut Sangi.Ia tak dapat lari sehingga tak ada cara lain kecuali bersembunyi di dalam semak-semak.
Beberapa waktu telah belalu.Ular raksasa itu tak dapat menelan mangsanya.Di coba berkali-kali pun gagal.Akhirnya sang ular menghentikan usahanya.Dengan murkanya dipalingkanlah kepalanya ke arah tempat sangi bersembunyi.Secara gaib,ia berganti rupa menjadi seorang yang gagah.Ia menghampiri Sangi dan memegang lengannya.
Pemuda itu menggertak dan memerintahkan kepada Sangi,”Telan babi hutan itu bulat-bulat karena engkau telah mengintip ular raksasa yang sedang menelan mangsanya.”
“Saya…tapi saya…tidak…bisa”
“Ayo cepat lakukan…”
Dengan penuh rasa ketakutan Sangi melaksanakan perintah itu.Ajaib sekali, ternyata Sangi mampu melaksanakan perintah pemuda itu dengan mudah sekali, seolah-olah ia sendiri seekor ular.
Pemuda asal ular itu berkata bahwa karena Sangi telah berani mengintainya,sejak saat itu pula Sangi berubah menjadi ular jadi-jadian.
“Untuk sementara waktu engkau tak usah risau, selama engkau dapat merahasiakan kejadian ini,engkau tetap dapat mempertahankan bentuk manusiamu.”kata pemuda ular itu.
Pemuda ular itu lalu menghibur Sangi dengan mengatakan bahwa nasib yang menimpa Sangi sebenarnya tak terlalu jelek.Sebab,sejak kejadian itu ia bukan lagi merupakan mahluk yang dapat mati sehingga ia dapat mempertahankan kemudaannya untuk selama-lamanya.Demikianlah Sangi harus menjaga rahasianya ini agar tidak ketahuan orang,termasuk anggota keluarganya sendiri dan anak cucunya.Dengan ini ia berhasil mencapai umur 150 tahun.Akan tetapi keadaan yang luar biasa ini menimbulkan rasa aneh pada keturunannya.Mereka ingin mengetahui rahasia kakeknya yang dapat berusia panjang dan dapat mempertahankan kemudaannya.
Oleh karena itu merekapun menghujani Sangi dengan berbagai pertanyaan.Akhirnya karena terus-menerus di desak,Sangi pun terpaksa membuka rahasianya,melanggar larangan berat itu.sebagai akibatnya,sedikit demi sedikit tubuhnya berganti rupa menjadi seekor ular raksasa.Pergantian ini di mulai dari Kakinya.Sadar akan keadaan ini,Sangi menyalahkan keturunannya sebagai nasib buruk yang menimpanya saat ini.
Dalam keadaan geram ia pun mengutuki keturunannya,yang dalam waktu singkat akan mati seluruhnya dalam suatu pertikaian di antara sesamanya.Sebelum sangi menceburkan dirinya ke sungai Kahayan bagian hulu untuk menjadi penjaganya,ia masih sempat mengambil harta pusakanya yang di simpan dalam satu guci Cina besar.Harta pusaka yang berupa kepingan-kepingan emas itu lalu di sebarkannya ke dalam air sungai.Sambil melakukan ini ia pun mengucapkan kutukan yang tersembunyi:
“Siapa saja yang mendulang emascdi daerah aliran sungai ini,akan mati tak lama setelah itu,sehingga hasil emas dulangannya akan di pergunakan untuk mengupacarakan kematiannya”.
Penduduk setempat percaya kisah ini pernah terjadi.Kepercayaan mereka di perkuat karena di daerah mereka ada anak sungai Kahayan yang bernama sungai Sangi.Menurutbeberapa orang yang sering berlayar dengan biduk atau perahu bermotor,mereka pernah melihatseekor ular raksasa.Kepalanya saja yang berukuran sebesar drum minyak tanah.Ular raksasa itu mereka lihat berangin-angin dai atas bungkah-bungkah batu sungai pada bulan purnama di musim kering.
Selain itu sampai saat ini orang –orang di sana tidak berni mendulang emas di sana yang katanya sebesar biji labu kuning dan terdapat banyak di sana.

Cerita Putri Kaca Mayang

 Room Cerita Rakyat 

Berbagi Info dari Blog : WIKI/BUKUBEBAS



cerita-putri-kaca-mayang


Putri Kaca Mayang adalah dongeng mengenai asal mula Kota Pekanbaru di provinsi Riau.
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini sangat terkenal, karena mempunyai seorang panglima yang gagah perkasa dan disegani, Panglima Gimpam namanya. Selama ia menjadi penglima Kerajaan Gasib, tiada satu pun kerajaan lainyang dapat menaklukkannya.

Kerajaan Gasib juga mempunyai seorang putri yang kecantikannya sudah masyhur sampai ke berbagai negeri, Putri Kaca Mayang namanya.Meskipun demikian, tak seorang raja pun yang berani meminangnya. Mereka merasa segan meminang sang Putri, karena Raja Gasib terkenal mempunyai Panglima Gimpam yang gagah berani itu.

Raja Aceh memberanikan dirinya meminang PutriKaca Mayang. Ia pun mengutus dua orang panglimanya untuk menyampaikan maksudpinangannya kepada Raja Gasib. Sesampainya di hadapan Raja Gasib, kedua panglima itu kemudian menyampaikan maksudkedatangan mereka.“Ampun, Baginda! Kamiadalah utusan Raja Aceh. Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan raja kami,” lapor seorang utusan.
“Benar, Baginda! Raja kami bermaksud meminang Putri Baginda yang bernama Putri Kaca Mayang,” tambah utusan yang satunya.
“Maaf, Utusan! Putriku belum bersedia untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf kamikepada raja kalian,” jawab Raja Gasib dengan penuh wibawa. Mendengar jawaban itu, kedua utusan tersebut bergegas kembali ke Aceh dengan perasaan kesal dan kecewa.
Di hadapan Raja Aceh, kedua utusan itu melaporkan tentang penolakan Raja Gasib. Raja Aceh sangat kecewa dan merasa terhina mendengar laporan itu. Ia sangat marah dan berniat untuk menyerang Kerajaan Gasib.
Sementara itu, Raja Gasib telah mempersiapkan pasukan perang kerajaan untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, karena ia sangat mengenal sifat Raja Aceh yang angkuh itu. Panglima Gimpam memimpin penjagaan di Kuala Gasib, yaitu daerah di sekitar Sungai Siak.
Rupanya segala persiapan Kerajaan Gasib diketahui oleh Kerajaan Aceh. Melalui seorang mata-matanya, Raja Aceh mengetahui Panglima Gimpam yang gagah perkasa itu berada di Kuala Gasib. Oleh sebab itu, Raja Aceh dan pasukannya mencari jalan lain untuk masuk ke negeriGasib. Maka dibujuknya seorang penduduk Gasib menjadi penunjuk jalan.
“Hai, orang muda! Apakah kamu penduduk negeri ini?, tanya pengawal Raja Aceh kepada seorang penduduk Gasib. “Benar, Tuan!” jawab pemuda itu singkat. “Jika begitu, tunjukkan kepada kami jalan darat menuju negeri Gasib!” desak pengawal itu. Karena mengetahui pasukan yang dilengkapi dengan senjata itu akan menyerang negeri Gasib, pemuda itu menolak untuk menunjukkan mereka jalan menuju ke Gasib.Ia tidak ingin menghianati negerinya. “Maaf, Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu seluk-beluk negeri ini,” jawab pemuda itu. Merasa dibohongi, pengawal Raja Aceh tiba-tiba menghajar pemuda itu hingga babak belur. Karena tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, pemuda itu terpaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib.
Berkat petunjuk pemuda itu, maka sampailah prajurit Aceh di negeri Gasib tanpa sepengetahuan Panglima Gimpam dan anak buahnya. Pada saat prajurit Aceh memasuki negeri Gasib, mereka mulai menyerang penduduk. Raja Gasib yang sedang bercengkerama dengan keluarga istana tidak mengetahui jika musuhnya telah memporak-porandakan kampung dan penduduknya. Ketika prajurit Aceh menyerbu halaman istana, barulah Raja Gasib sadar, namun perintah untuk melawan sudah terlambat. Semua pengawal yang tidak sempat mengadakan perlawanan telah tewas di ujung rencong (senjata khas Aceh) prajurit Aceh. Dalam sekejap, istana berhasil dikuasai oleh prajurit Aceh. Raja Gasib tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan para pengawalnya tewas satu-persatu dibantai oleh prajurit Aceh. Putri Kaca Mayang yang cantik jelita itu pun berhasil mereka bawa lari.
Panglima Gimpam yang mendapat laporan bahwa istana telah dikuasai prajurit Aceh,ia bersama pasukannya segera kembali ke istana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Panglima Gimpam sangat marah dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib dan berjanji akan membawa kembali PutriKaca Mayang ke istana.
Pada saat itu pula Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya. Dengan kesaktiannya, tak berapa lama sampailahPanglima Gimpam di Aceh. Prajurit Aceh telah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Mereka telah menyiapkan dua ekor gajah yang besar untuk menghadang Panglima Gimpam di gerbang istana. Ketika Panglima Gimpam tiba di gerbang istana, ia melompat ke punggunggajah besar itu. Dengan kesaktian dan keberaniannya, dibawanya kedua gajah yang telah dijinakkan itu ke istana untuk diserahkan kepada Raja Aceh.
Raja Aceh sangat terkejut dan takjub melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya. Akhirnya Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya Putri Kaca Mayang untuk dibawa kembali ke istana Gasib. Setelah itu, Panglima Gimpam segera membawa Putri Kaca Mayang yang sedang sakit itu ke Gasib. Dalam perjalanan pulang, penyakit sang Putri semakin parah. Angin yang begitu kencang membuat sang Putri susah untukbernapas. Sesampainya di SungaiKuantan, Putri Kaca Mayang meminta kepada Panglima Gimpam untuk berhentisejenak. “Panglima! Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Tolong sampaikan salam dan permohonan maafku kepada keluargaku di istina Gasib,” ucap sang Putri dengan suara serak. Belum sempat Panglima Gimpam berkata apa-apa, sangPutri pun menghembuskan nafasterakhirnya. Panglima Gimpam merasa bersalah sekali, karena ia tidak berhasil membawa sang Putri ke istana dalam keadaan hidup. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam melanjutkan perjalanannya dengan membawa jenazah Putri Kaca Mayang ke hadapan Raja Gasib.
Sesampainya di istana Gasib, kedatangan Panglima Gimpam yang membawa jenazah sang Putri itu disambutoleh keluarga istana dengan perasaan sedih. Seluruh istana dan penduduk negeri Gasib ikut berkabung. Tanpa menunggu lama-lama, jenazah Putri Kaca Mayang segera dimakamkan di Gasib. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.
Untuk sementara waktu, pemerintahan kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimpam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimpampun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimpam tidakingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain. Ia pun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesempatan itu ada di depannya.
Akhirnya, atas kehendaknya sendiri, Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakan Pekanbaru. 

Baca Juga : Room Cerita Putri Mayang
Baca Juga : Arti Room Pengetahuan 


 


Cerita Putri Mayang

ROOM CERITA RAKYAT,
Berbagi DI Room Cerita dari Info blog : CERITA RAKYAT KALTENG
 
Cerita-Putri-Mayang
 
 
abad ke 14 – 15 , di wilayah Barito (sekarang Kab. Barito Timur) ada keturunan dayak yang terbagi dari Dayak Kampung sepuluh , Dayak Benua Lima, Dayak Lawangan, dan Dayak Paju Epat. Diantara keturunan Dayak ada garis keturunan yang disebut Uria atau oring kaya / terhormat. Garis Uria tersebut tidak jatuh pada keturunan Dayak Kampung sepuluh, Dayak Lawangan, Dayak Paju Epat melainkan hanya pada Dayak benua lima. Keturunan Uria terdiri dari dua orang Dayak Benua lima yang bernama Uria Mapas Negara dan Uria Rinyam.
Keduanya hidup akur, rukun dan damai hingga suatu hari terjadi perselisihan paham kepercayaan
masalah anutan dalam adat – adat Kaharingan. Sehingga, Uria Rinyam bermukin diwilayah kampung Dayak Paju Sepuluh (Sekarang Desa Dayu, kecamatan Karusen Janang) dengan membawa adat istiadat kepercayaan walaupun ada beberapa benda pusaka yang sama dan kesamaan adat seperti Abeh dan Batu Maruken. Setelah tumbuh besar di kampung Dayu, Uria Rinyam yang memiliki wajah rupawan merantau dan bekerja di Kerajaan Banjar di Kayu Tangi
(Sekarang Kota Banjarmasin, Provinsi Kalsel). Akhirnya, Uria Rinyam dipercayakan Raja Banjar, Sultan Suriansyah sebagai pembantu/pengawal kerajaan. Segala kepengurusan di Kerajaan Banjar dipercayakan kepada Uria Rinyam. Ini karena pegabdian Uria rinyam yang setia kepada Raja Banjar. Namun, kepercayaan Raja Banjar yang memiliki
panggilan Raja Mata Habang (Raja Mata Merah) kepada Uria Rinyam buyar seketika ketika mengetahui Isterinya memiliki hubungan khusus dengan Uria Rinyam. Hubungan Uria Rinyam dengan sang isteri raja Banjar itu terjadi karena ketampanan wajah Uria Rinyam yang membuat takjub. Sedangkan Uria Rinyam sendiri tak bisa menahan diri karena sering datangnya godaan – godaan dari Isteri Raja Mata Habang. Sultan Suriansyah dikenal sebagai Raja yang sering bepergian ke berbagai wilayah Kerajaan di hulu Barito (sekarang Muara Teweh Kabupaten Barito Urata dan Puruk Cahu, Kab. Murung Raya) untuk urusan kerajaan. Karena sering bepergian, terciptalah kesempatan antara Uria Rinyam dan Ratu Galuh Banjar untuk sering bertemu berdua sehingga membuat hubungan kian erat.
(hubungan yang kian erat tersebut membuat sang juru kunci tidak bisa menceritakan dan demikian pula dengan si penulis yang tidak bisa menceritakannya kembali dalam bentuk tulisan)
Hingga hari, Uria Rinyam mendapat kabar bahwa Raja Banjar, Sultan Suriansyah pulang dari Puruk Cahu ke Istana Banjar. Mendengar kepulangan sang raja Banjar, Uria Rinyam langsung bertolak pulang ke Dayu, tempat dia tumbuh dan besar. Sesampainya di Sungai Barito wilayah Hulu Marabahan (sekarang Kabupaten Marabahan,
Kalsel) Uria Rinyam berpapasan dengan Sultan Suriansyah dan saling berjabat tangan. Namun, Sang Raja Banjar menyimpan amarah dengan Uria Rinyam. Sebab tubuh Uria rinyam mengeluarkan aroma minyak wangi milik Ratu
Galuh Banjar yang tidak lain adalah isterinya sendiri. Minyak wangi setambol tersebut merupakan ciri khas dari isterinya yang biasa dipakai di istana kerajaan dan aroma wanginya
bisa dicium dari kejauhan 3 Kilometer. Sultan Suriansyah hanya bisa bergumam dan
bertanya-tanya didalam hati serta memendam amarah yang cukup besar saja, ini tentunyak arena belum adanya bukti – bukti yang kuat, bahwa ada hubungan lain antara isterinta dengan pengawal kepercayaannya itu. Setibanya di Istana Banjar, sang raja akhirnya memanggil isterinya untuk berkata dengan sejujur- jujurnya untuk bercerita, mengapa aroma minyak wangi Setambol yang bisa digunakan isterinya di Istana Banjar bisa melekat di tubuh Uria Rinyam.
Walaupun sering mengelak alias ngelis, akhirnya ratu Galuh Banjar pun bercerita dengan kejujurannya, dan diakuinya bahwa ada hubungan khusus dirinya dengan Uria Rinyam secara diam - diam tanpa sang raja.
Raja Banjar pun tak elak menahan emosinya hingga maranya kada katulungan (marahnya tak
terbendung, red) kepada isterinya hingga isterinya diungsikan ke suatu tempat (konon kabarnya
isterinya tak diungsikan, melainkan dihukum sesuai syariat agama Islam). Sedangkan Uria Rinyam menerima Patok Bekaka (sebuah patung yang memiliki lambang dengan simbol ukiran khusus untuk tanda - tanda berisi
pesan) diminta untuk segera dan harus datang ke Kerajaan dengan mencukur rambut karena ingin diangkat untuk menggantikan sang Raja Banjar. Tetapi, Uria rinyam memiliki firasat buruk. Sebelum berangkat, Dirinya bertapa untuk mendapatkan kabar apa yang akan terjadi. Ternyata, kabar yang diterimanya yakni rencana pembunuhan terhadap dirinya oleh sang raja. Uria segera melihat tali kehidupannya, tetapi tiada ada tanda tanda memiliki umur yang panjang. Uria Rinyam meminta temanya sebanyak 9 (sembilan) orang untuk menemainanya ke Kerajaan Banjar. Namun, 9 temannya tak diijinkan masuk ke kerajaan banjar. Sembilan orang teman teman uria rinyam diminta untuk menginap di luar kerajaan. Namuan setelah tiga haritak ada informasi kabar berita Uria Rinyam, teman-temannya pergi ke kerajaan banjar untuk menanyakan kabar dan keberadaan uria rinyam. Hasilnya, kerajaan banjar mengatakan bahwa Uria Rinyam sudah tak ada lagi di kerajaan dan keberadaanannya juga tidak diketahui. karena ada kejanggalan, kesembilan teman Uria Rinyam akhirnya pulang ke ke kampung halaman dan melaporkan kejadian itu kepada Kakak kandung Uria Rinyam, Uria Mapas Negara yang tinggal di sebuah kampung Lubuk Kajang (pinggiran sungai
terbesar kala itu) di Jaar (Kini menjadi desa Jaar , Kecamatan Dusun Timur). Tidak enak mendengar kabar tentang adiknya yang disampaikan teman- teman Uria rinyam. Uria Mapas melakukan pertapaan dan berkomunikasi
dengan teman – teman gaibnya. Dan teman gaib uria mapas mengatakan bahwa adiknya, Uria Rinyam telah dibunuh oleh kerajaan Banjar dengan kepala di pancung. Mendengar hal tersebut, Uria Mapas melakukan ritual untuk membalaskan dendam dengan berperang ke kerajaan banjar. Sebelum berangkat, Uria Mapas sempat mengirimkan Pucuk Bekaka kepada Raja Banjar dengan isi pesannya bahwa dirinya, Uria Mapas kakak kandung dari Uria rinyam akan menuntut
balas dengan mahamuk (perang besar) melawan kerajaan banjar seorang diri. Uria Mpas berangkat membawa sepucuk Mandau yang bernama Langsar Tewomea ( Artinya : Haus Akan darah lapar akan daging) dan sebatang Halu
(Batang kayu penumbuk padi) pusaka dengan mengikuti alur sungai Tabalong yang tembus ke Sungai Banjar (Sekarang sungai Martapura) dengan menggunakan Kumpai (Rumput ilalang) yang dirakit
menjadi sebuah perahu besar.\ Uria Mapas bertekad, dimana Kumpai yang dinaikinya itu tertambat, di daerah itulah dirinya memulai perang. Ternyata, kumpai yang dinaikinya tertambat di sebuah Rawai (tempat kurungan ikan)
di daerah Hulu Marabahan (Sekarang Marabahan). Disitulah Uria Mapas memulai amukan-nya dengan menghabisi separuh dari warga kerajaan Bakumpai (salah satu daerah milik kerajaan banjar). Akhirnya, kerajaan bakumpai mengirimkan pesan kepada kerajaan banjar bahwa warga kerajaan bakumpai tidam mampu untuk menghadapi
amukan Uria Mapas. Tidak begitu lama , kerajaan banjar mengirimkan pesa pula kepada kerajaan Bakumpai dengan Patok Bekaka yang memberikan pesan perdamaian untu Uria Mapas. “Isi pesan yang disampaiakn kerajaan Bakumpai dengan Uria Mapas diantaranya Raja Banjar memberikan anaknya seorang putrid yang bernama Putri Mayang Sari sebagai pengganti adiknya yang tewas di tangan kerajaan banjar” kata Seto Lansai, Juru Kunci makam Putri Mayang.
Uria Mapas menerima perdamaian dari raja banjar dan hidup bersama dengan putri mayang sari dengan hidup kakak beradik di Lubuk Kajang di desa Jaar. Uria mapas sangat menyayangi adik
perempuannya yang cantik dengan penuh kasih sayang. Hingga suatu hari, putrid mayang mandi di sungai
Lubuk Kajang dan kemudian mulai sakit – sakitan dan meninggal dunia di tempatnya tersebut. Putri mayang Sari meninggal pada usia 30 tahun, dia di lahirkan di Banjar pada hari Arba (Rabu) tahun 1585 dan wafat pada hari Arba tahun 1615. Bersilang waktu sekita 13 tahun, Uria Mapas yang dilahirkan pada tahun 1569 tersebut kemudian
wafat pada tahun 1628. Menurut cerita, jelasnya Seto Lansai, Putri Mayang Sari memiliki wjah yang cantik dan rupawan serta memiliki rambut yang lebat dan panjang. “Menurut kisah-kisah warga terdahulu, putrid mayang
memiliki Rambut yang panjnag, jika sang Putri Mandi sampai di rumahnya usai mandi di sungai, maka rambutnya masih berada di sungai tersebut”
tambah Seto. Dijelaskan pria kelahiran tanggal 31 Desember 1935 yang menjadi juru kunci makam putri mayang, bahwa pejiarah yang datang kemakam putrid mayang banyak berdatangan dari berbagai macam daerah seperti daerah kalsel dan Kalteng, bahkan ada pejiarah dari tanah Jawa. Ini dikarenakan , Pejiarang yang datang dan bernazar atau berniat dengan tulus di Makam putri mayang banyak terkabulkan.

 
Room : Room 1 | Room.SO.T | Room BO
Copyright © 2011. ROOM PENGETAHUAN - All Rights Reserved
Room Pengetahuan Room.SO.T Published by Room Pengetahuan
Room.BO Blogger